FAKTA SEJARAH KONSEP ILMU ISLAM (TIM WALLACE-MURPHY)

 


Konsep Islam tentang ilmu yang terintegrasi sudah pernah terbukti diaplikasikan dalam sejarah. Fakta-fakta pengembangan sejarah sains selama ratusan tahun didunia islam termasuk di Barat (Andalusia). Membuktikan bahwa untuk meraih perkembangan sains yang tinggi, bisa diraih dengan konsepsi sains yang tidak sekular, yakni sains yang berbasis pada konsep tauhid.

Seorang sejarawan asal Irlandia yaitu Tim Wallace-Murphy yang mengatakan dalam bukunya “what islam did for us: understanding islam’s contribution to western civilazion”, (London: Watkins Publishing, 2006), menggambarkan kejayaan islam yang kemudian memberikan jasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern di Barat. Ia kemudian membuat perbandingan kehidupan peradaban islam dan peradaban Barat di masa kejayaan islam di Andalusia (Spanyol).

Selain itu juga Tim Wallace-Murphy menegaskan bahwa “Life for the majority of people in mainland Christian Europe was short, brutal and barbaric when compared with the sophisticated, learned and tolerant regime in Islamic Spain”. (129) yang memiliki arti “kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Kristen Eropa adalah singkat, brutal dan biadab, dibandingkan dengan kehidupan yang canggih, terpelajar dan rezim yang toleran di wilayah muslim Spanyol”.

Kaum Kristen di Eropa, menurut Wallace-Murphy, mengenal ilmu pengetahuan bukanlah langsung dari warisan tradisi Yunani, tetapi melalui buku-buku berbahasa Arab yang ditulis oleh ilmuan-ilmuan muslim dan Yahudi. Mereka belajar dan menerjemahkan secara bebas pada pusat-pusat pembelajaran islam di Spanyol, yang disebutnya sebagai “the greatest cultural centre in Europe”. Ketika itu, Barat menjadikan kampus-kampus di Spanyol sebagai model. Tahun 1263 berdirilah Oxpord University dan tak lama sesudah itu berdiri pula Cambridge University. “it was the well known and respected collages in al-Andalus that became a models on whitch Oxford and Cambridge were based”, tulis Wallace-Murphy. Jadi, kampus-kampus terkenal Eropa seperti Oxford dan Cambridge University didirikan dengan mengambil model kampus-kampus terkenal dan hebat yang ada di Andalusia (Spanyol).

Sejarawan Louis Cochran menjelaskan bahwa Adelard of Bath (c.1080-c1150) yang dijuluki sebagai “the first English scientist”, berkeliling ke Syria dan Sicilia selama tujuh tahun, pada awal abad ke-12. Ia belajar bahasa Arab dan mendapatkan banyak sekali buku-buku para sarjana. Ia menerjemahkan “Elements” karya Euslidus, dan dengan demikian mengenalkan Eropa pada buku tentang geometri yang paling berpengaruh di sana. Buku itu menjadi standar pengajaran geometri selama 800 tahun kemudian. Adelard juga menerjemahkan buku tabel astronomi, Zijj, karya Al-Khawarizmi (d.840) yang direvisi oleh Maslama Al-Majrit of Madrid (d.1007). buku itu merupakan pengetahuan astronomi termodern pada zamannya.

Salah satu penerjemah terkenal adalah Gerard of Cremona yang menghabiskan waktunya selama hampir 50 tahun di Toledo (dari sekitar tahun 1140 sampai kematiannya sekitar tahun 1187). Ia menerjemahkan sekitar 90 buku berbahasa Arab ke bahasa Latin; setengahnya lebih mengenai matematika, astronomi dan sains lainnya, sepertiga berkaitan dengan kedokteran dan sisanya berkaitan dengan masalah filsafat dan logika. Semua cabang ilmu ini kemudian dikenal sebagai bagian integral dari fondasi apa yang dikenal sebagai istilah “intellectual renaissance” di Eropa pada abad ke-12 dan ke-13.

Karena itulah, kata Wallace-Murphy, Barat mempunyai hutang yang sangat besar dan tak ternilai terhadap kaum muslim. Hutang itu, selamanya tidak akan pernah bisa dibayar, lalu ia mencatat :

“Even the brief study of history revealed in these pages demonstrates that European culture owes an immense and immeasurable debt to the world of islam. Muslim scholars preserved and enhanced the learning of ancient Greece, laid the foundations for modern science, medicine, astronomy and navigation and inspired some of our greatest cultural achievements. If it were not for the inherent tolerance for the people of the book that was manifest within the Islamic world for over 15 centuries, it is highly doubtful that the jewish people could have survived as a racial and religious entity, and we would have lost their contribution to art, medicine, science, literature and music which is almost beyond measure. We in thr West owe a debt to the muslim world that can be never fully repaid “ (Tim Wallace-Murphy, hlm.215)

Berdasarkan kajiannya yang cukup serius terhadap sejarah hbungan Barat dan Islam, Wallace-Murphy mengajak Barat tidak memandang islam dengan sebelah mata, sehingga menganggap kaum muslim harus diajari dan didekte untuk menyelesaikan masalah mereka. Ia yakin, bahwa kaum muslaim mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia melontarkan pertanyaan “can the world of islam solve its own problem?”

Lantas, ia menjawab pertanyaannya sendiri bahwa di masa lalu, dunia islam mampu menyelesaikan masalahnya. Dan berkat prinsip-prinsip dasar keimananya, maka islam akan mampu mewujudkan kehidupan yang penuh roleransi terhadap agama dan budaya lain. Bahkan katanya, berkat terpelihatanya keyakinan dan keimanan yang tak tergiyahkan, siapa atau apa yang mampu menghentikan islam?.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "FAKTA SEJARAH KONSEP ILMU ISLAM (TIM WALLACE-MURPHY)"

Posting Komentar