Islamisasi Ilmu Pengetahuan

 

Islam sebagai agama pembawa kebenaran dan Rahmatan lil ‘alamin, salah satu fungsinya adalah untuk menyelesaikan berbagai problematika di dalam masyarakat. Sebab islam adalah satu-satunya agama wakyu, autentik dan sudah final, tidak memerlukan pengembangan dari siapa pun. Selama berabad-abad lamanya islam memimpin dunia dan menjadi solusi bagi umat. Sebuah ketimpangan yang parah sekalipun, yang manusia tidak mampu menyelesaikannya maka hanya islam lah yang menjadi jalan keluarnya.

Saat ini peradaban Barat yang berlandaskan pada paham sekularisme, rasionalisme, utilitarinisme dan materialism, telah membawa dunia menuju ambang kehancuran. Memang tidak menutup mata berbagai keberhasilan dan kemajuan dihasilkan oleh peradaban ini. namun juga tidak dapat dipungkiri peradaban Barat juga telah menghasilkan penjajahan, perang berkepanjangan, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, keterasingan (alienasi) dan anomi (berkekurangan adat sosial atau standar etika dalam diri individu atau masyarakat) tidak terdapat keseimbangan dan ketertiban di masyarakat.

Ilmu yang berkembang di dunia Barat saat ini berdasarkan pada rasio dan pancaindra, jauh dari wahyu dan tuntunan Ilahi. Meskipun telah menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia, ilmu Barat modern telah pula melahirkan bencana, baik kepada manusia, kemanusiaan, alam maupun etika. Akibat paham materialism maka terjadi penjajahan dan kolonisasi. Ribuan bahkan jutaan nyawa manusia melayang. Perbudakan terjadi dan kekayaan alam dieksploitasi. Harun Yahya dalam bukunya The Disasters Darwinism Brought to Humanity menggambarkan berbagai bencana kemanusiaan yang ditimbulkan akibat Darwinisme, diantaranya berupa rasisme dan kolonialisme.

Peradaban Barat sebagaimana ditulis oleh sejarawan Marvin Perry, adalah sebuah peradaban besar, tetapi sekaligus sebuah drama yang tragis (a tragic drama). Peradaban ini penuh kontradiksi. Satu dan teknologi, yang membuat berbagai kemudahan fasilitas hidup. Akan tetapi, pada sisi lain, peradaban ini memberi kontribusi yang tidak kecil kepada penghancuran alam semesta.

Paham pluralism agama yang diusung Barat telah menampakan sifatnya yang intoleran dan eksklusif. Kaum pluralis mengklaim diri merasa benar secara absolut dan hanya gagasan pluralisme agama sendirilah yang absulut benar. Klaim ini melahirkan “inkuisisi” (inquisition) model baru atas nama perang melawan terorisme. Inkuisisi abad ke-21 ini lingkupnya jauh lebih luas, global, dan tidak lagi mengenal batas-batas geografis serta menggunakan alat-alat yang sangat canggih dan memusnahkan secara massif dan masal. Dari pengejaran, penginterogasian atau kelompok yang “di duga” bersebrangan atau berkeyakinan “beda” sampai pembumihangusan Negara-negara berdaulat seperti yang tengah menimpa Afganistan dan Irak.

Dalam dunia kedokteran modern dikenal praktik vivisection (arti harfiahnya “memotong hidup-hidup”), yaitu cara menyiksa hewan hidup karena dorongan bisnis untuk menguji obat-obatan agar dapat mengurangi daftar panjang segala jenis penyakit manusia. praktik ini selain tidak beretika keilmuan dan tidak “berperikemanusiaan” juga menyiksa pertanyaan intrinsic tentang asumsi atas tingkat kesamaan uji laboratorium hewan dan manusia yang mengesahkan ekplorasi hasil klinis dari satu ke lainnya.

Dunia pertanian moder yang sangat berlebihan dalam penggunaan bahan-bahan kimia, seperti luasnya penggunaan pestisida, herbisida, pupuk nitrogen sintesis, dan seterusnya bahkan meracuni bumi, membutuh kehidupan margasatwa, bahkan meracuni hasil panen dan mengganggu kesehatan para petani. Pertanian yang semula disebut dengan istilah “agriculture” (kultur, suatu cara hidup yang menghargai, timbal balik komunal, dan kooperatif bukan kompetitif) berkembang lebih popular dengan istilah agribusiness, sebuah system yang memaksakan tirani korporat untuk memaksimalkan keuntungan dan menekan biaya, menjadikan petani atau penduduk lokal yang dahulu punya harga diri dan mandiri lalu berubah menjadi buruh upahan ditanah sendiri. Kehidupan sosial yang kooperatif pun berganti menjadi kompetitif tanpa nurani.

Daftar kerusakan tersebut tentu saja masih panjang. Tetapi yang penting, ilmu pengetahuan yang sudah terbaratkan itu (westernized) harus dikembalikan ke tujuan semula, sebagaimana islam turun ke bumi, untuk membawa rahmat bagi alam. Oleh karena itu, solusi kerusakan dunia yang diakibatkan oleh rusaknya ilmu ini hanya dapat diatasi dengan Islamisasi Ilmu. Sebab, keduanya (islam dan barat) berbeda secara prinsip dan diamentral. Jika peradaban barat (western) telah menginfeksi ilmu, maka penyembuhnya adalah Islamisasi Ilmu.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Islamisasi Ilmu Pengetahuan"

Posting Komentar