“Apakah ilmu?” ketika dihadapkan pada pertanyaan ini, kebanyakan
dari kita akan terusik, atau enggan untuk menjawab dan bahkan tidak peduli
belaka. Ada yang berkata, “ilmu adalah apa yang kamu tahu.” Tapi sesungguhnya
itu bukanlah definisi, melainkan suatu taulogis-sekadar berkata bahwa ilmu
adalah ilmu dan sama sekali tidak menyatakan apa pun. Oxpord English
Dictionary (yang pasti sudah disusun oleh sebuah tim penulis terdidikyang
cakap) mendaftar tiga arti untuk kata “ilmu”: (i) informasi dan
kecakapan yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan, (ii)
keseluruhan dari apa yang diketahui, (iii) kesadaran atau kebiasaan yang
didapat melalui pengalaman akan suatu fakta atau keadaan.
Coba lihat yang pertama, dapatkah kita berkata bahwa ilmu adalah
informasi? Kita mungkin menganggap begitu, tetapi saya akan berbeda berdasarkan
setidaknya dua alasan. Pertama, informasi dapat benar atau salah, jadi jika
ilmu adalah informasi, maka ilmu mencakup informasi yang benar atau salah. Tapi
bagaimana bisa mengatakan tahu sesuatu ketikia ternyata hal itu adalah akibat misinformasi
atau salah-informasi?. Kedua, jika kita sepakat dengan Combridge English
Dictionary bahwa informasi adalah ’fakta tentang suatu keadaan orang,
peristiwa dan seterusnya,’ maka fakta setara dengan ilmu. Namun, fakta bukanlah
ilmu dan ilmu tidak bisa dikacaukan dengan fakta. Bahkan, kamus yang sama
menyebutkan bahwa “fakta” adalah “sesuatu yang diketahui telah terjadi
atau wujud, terutama sesuatu yang dengannya suatu bukti itu wujud, atau yang
mengandung informasi.” Saya menulis miring kata “diketahui” untuk menunjukan
adanya pendefinisian yang berputar-putar atasnya.
Demikian juga, untuk mendefinisikan ilmu dalam hal kecakapan dan
keahlian adalah problematis. Misalnya, kita tahu persis apa itu pesawat udara. Kita
memiliki ilmu tentang itu dalam arti bahwa jika kita diminta untuk
menggambarnya akan dengan mudah dilakukan, atau jika diminta untuk
menunjukannya di sebuah banda udara akan mudah menunjukannya. Namun, ilmu
semacam ini bukanlah keahlian. Mengetahu apa itu pesawat udara tidak berarti
ahli tentangnya. Sebaliknya juga benar; keahlian menyiratkan ilmu, tetapi ilmu
tidak mesti keahlian. Dan, jika pendidikan mengacu pada suatu proses mengenal
dan menui ilmu, definisi itu hanya membawa kita kembali kepada pertanyaan, “apakah
ilmu?”
Definisi kedua, ilmu adalah keseluruhan dari apa yang diketahui,
juga patut dipertanyakan. Jika “apa yang diketahui” adalah ilmu, semata-mata
menyatakan bahwa ilmu adalah ilmu. Definisi yang ketiga pun tidak lebih baik. Kesadaran
(awareness) mungkin bisa timbul dari ilmu, tetapi ilmu bukanlah
kesadaran. Kita mungkin sadar akan nyamuk yang berada disekitar kita, tetapi
itu tidak berarti sama dengan memiliki ilmu tentang nyamuk, kecuali jika kita
seorang ahli biologi. Demikian pula, jika ilmu berarti kebiasaan (familiarity),
maka kebiasaan menyiratkan ilmu. Namun, seringkali tidak demikian halnya. Karena,
kita seringkali mendapati orang-orang yang cukup terbiasa dengan computer,
tetapi bukan pakar ilmu computer dan maka mereka memiliki sedikit ilmu, jika
memang memilikinya, tentang computer.
Nyaris seribu tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Seorang bernama
Plato sampai pada definisi “ilmu adalah keyakinan sejati yang dibenarkan”,
ujarnya dalam Theaetetus 201c8, salah satu dialog-dialognya yang terkenal. Definisi
ini ringkas dan padat, tetapi mendalam. Kita dapat memecahnya menjadi tiga
unsur: (i) keyakinan, (ii) kebenaran dan (iii) nalar. Hal-hal
ini adalah tiga syarat yang harus dipenuhi untuk proposisi apa pun agar
memenuhi syarat sebagai ilmu.
Pertama-tama, sesuai nalar Plato, mengetahui adalah ilmu. Jika kita
tahu bahwa gula itu manis, kita sesungguhnya yakin pada keberadaan sesuatu yang
disebut “gula” dan kita yakin akan rasanya yang manis. Namun, ilmu bukanlah hanya
sekadar yakin. Hanya keyakinan-keyakinan yang benar dapat disebut sebagai ilmu.
Keyakinan yang salah bukanlah ilmu, menurut Plato. Tapi bagaimana kita dapat
membedakan keyakinan yang benar dari yang salah? Disinilah berperan “logos”.
Supaya memenuhi syarat sebagai ilm, keyakinan kita harus didukung oleh nalar. Maksudnya,
suatu keyakinan itu benar jika dan hanya jika secara nalar dibenarkan. Suatu keyakinan
yang benar sebab suatu kebetulan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu. Sesungguhnya,
sebagaimana kita sering jumpai halnya, keyakinan yang minim bukti seringkali
salah, meski keyakinan demikian ini mungkin terkadang malah benar.
Definisi Plato ini sudah pernah mendapat sanggahan. Salah satu yang
terkenal adalah dari Edmund L. Gettier, dalam suatu tulisan ilmiahnya yang kini
termasuk klasik, Gettier mencoba menyanggah definisi ini dengan menunjukan
keadaan dimana seseorang memiliki keyakinan yang benar yang dibenarkan hingga
taraf tertentu, tetapi tidak pada taraf yang dikehendaki Plato (mis., keyakinan
seseorang yang benar semata karena hanya kebetulan, ketika orang itu tidak
punya bukti yang berhubungan dengan fakta sebenarnya dan sehingga yakin akan
kebenaran semata karena kebetulan), namun dalam keadaan demikian, semua orang
sepakat bahwa orang itu memiliki ilmu.
Tampaknya, jelas bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan tanpa
menyertakan pendapat yang berputar-putar dan taulogi (yaitu menyatakan ilmu
adalah ilmu). Namun, ini tidak berarti bahwa kita tidak bisa membahas ilmu sama
sekali. Barangkali karena alasan ini para filsuf tertarik mendefinisikan dari
pada membahas beragam jenis ilmu. Maka, Bertrand Russell membedakan ilmu akan
sesuatu dan ilmu akan kebenaran, dan kemudian membagi-bagi apa yang ia sebut
ilmu akan sesuatu menjadi dua bagian: (i) ilmu berdasarkan pemberian dan
(ii) ilmu berdasarkan pengenalan.
Ada sejumlah hal yang kita tahu “tangan pertama” dan yang sebatas
kita dengan atau baca dengan kata lain hal-hal yang digambarkan pada kita. Sebagian
besar ilmu kita masuk dalam konteks pertama. Kita mengetahui bahwa jarak yang
memisahkan matahari dengan planet kita adalah sekitar 150 juta kilometer, tidak
berdasarkan pengenalan langsung, melainkan penggambaran yang kita jumpai di
buku-buku dan laporan ilmiah.
Selain definisi ilmu dari Plato, terdapat dua definisi ilmu yang
paling terkenal. Yang pertama didefinisikan oleh seorang pakar filologi
Al-Gaghib Al-Isfahani (w.443/1060). Dalam karyanya kamus istilah Quran
ilmu didefinisikan sebagai “persepsi suatu hal dalam hakikatnya” (al-‘ilm
indrak al-shay’ bi-haqiqatihi). Ini artinya, bahwa sekadar menilik sifat
(mis., bentuk, ukuran, berat, isi, warna dan sifat-sifat lainnya) suatu hal
tidak merupakan bagian dari ilmu. Mendasari definisi ini adalah suatu pandangan
filosofis bahwa setia zat terdiri atas essence dan accidents. Essence adalah
apa yang membuat suatu sebagai dirinya, sesuatu darinya akan tetap satu dan
sama sebelum, semasa, setelah perubahan maka disebut sebagai hakikat. Ilmu adalah
segala hal yang menyangkut hakikat yang tak berubah.
Definisi kedua diberikan oleh “Hujjat-Al-Islam” Imam Al—Ghazali
(w505/1111) yang memerikan ilmu sebagai “pengenalan sesuatu atas dirinya” (ma’rifat
al-shay’ ‘ala ma huwa bihi). Definisinya ini, untuk tahu sesuatu berarti
mengenali sesuatu itu sebagai adanya. Istilah ma’rifat dalam definisi imam
Al-Ghazali mengiaskan kepada fakta bahwa ilmu selalu merupakan semacam penemuan
diri. Seseorang mungkin membandingkanhal ini dengan teori anamnesis
Plato, dimana pembelajaran dikatakan terdiri atas mengingat-ingat ide zhahiri
yang sudah dimiliki. Pin lain yang relevan terdapat pada ungkapan ‘ala ma
huwa bihi. Dalam pandangan imam Al-Ghazali, kita tidak dapat mengklaim
memiliki ilmu sesuatu kecuali jika dan hingga kita tahu sesuatu itu “apa adanya”.
Sesungguhnya, sesuatu itu tampak tidak sebagaimana hakikatnya. Bumi tampak
datar, bintang tampak kecil, matahari tampak mengelilingi bumi dan seterusnya. Maka
definisi ini menempatkan hal-hal ini sebagai dugaan, khayalan ilusi,
halusinasi, mitos dan semacamnya diluar cakupan ilmu.
Belum ada tanggapan untuk "Mendefinisikan Ilmu (Plato)"
Posting Komentar