Malam adalah waktu yang sangat ditunggu oleh Ilham, karena baginya malam adalah
tempat yang sesuai untuk dia mencurahkan semua masalahnya kedalam sebuah tulisan dan
Ilham sangat menyukai malam, karena baginya malam adalah sahabat yang sesungguhnya,
yang mengerti keadaannya lebih dari siapapun. Ilham selalu belajar, bagaimana cara
membuat tulisan itu agar lebih indah, kata-kata yang ditulisnya seakan bisa membuat semua
orang tau akan masalahnya.
Dalam menulis sebuah tulisan, Ilham teringat akan pesan yang gurunya sampaikan
bahwa “setiap penulis pasti mempunyai satu nama untuk dijadikan sebuah inspirasi dari
tulisannya”,dan Ilham membenarkan pernyataan tersebut. Baginya malam yang dia sukai
tidak sepenuhnya memberikannya inspirasi, namun orang lainlah yang membuat inspirasi itu
benar-benar nyata.
Hilma, adalah wanita yang Ilham kagumi dari dulu, Hilma adalah wanita yang cantik,
baik dan juga ramah kepada semua orang, dan itulah yang membuat Ilham selalu
menjadikannya inspirasi untuk menulis sebuah karangan. Namun sangat disayangkan,
kekaguman Ilham kepada Hilma hanya dalam waktu yang singkat. Setelah mengetahui dari
sahabat Ilham bahwa Hilma sudah tiada lagi didunia, Ilham merasa sedih karena wanita yang
Ilham kagumi sekaligus inspirasnya telah hilang untuk selamanya.
Bertahun-tahun, Ilham tidak lagi menulis sebuah karangan. Rasa percaya dirinya
terhadap sebuah tulisan, perlahan hilang ditelan waktu. Impian yang ilham bangun dulu,
perlahan terlupakan karena rasa sedih. Bagi Ilham, tidak ada lagi inspirasi, tidak ada lagi
sebuah tulisan dan tidak ada lagi kesukaan terhadap malam, semuanya telah hilang, telah
pergi dan telah meninggalkannya untuk selamanya, pikir Ilham.
Namun, disaat Impian itu perlahan Ilham kubur, tiba-tiba ada seorang wanita yang
menanyakan hal itu. Dia berkata “apa yang sedang kamu lakukan sekarang?, apa yang
membuatmu kehilangan masa depan?, dan apa yang membuatmu berpikir, bahwa tidak ada
lagi sebuah harapan?”. Mendengar pertanyaan tersebut Ilham menjawabnya dengan hati
yang ragu-ragu, dan Ilham menjawab “aku tidak sedang melakukan apa apa. Aku tidak
sepenuhnya kehilangan masa depan, namun aku sepenuhnya kehilangan masa lalu. Dan aku
tidak berpikir, bahwa harapan itu tidak ada untuk ku, namun harapan yang diimpikan
perlahan berbeda dengan sebuah kenyataan”.
Wanita itu kembali berkata “aku tidak mengerti apa yang kamu katakan”. Aku juga
tidak memaksamu untuk memahami semuanya, jawab Ilham. Lalu Ilham bertanya kepada
wanita itu “jika misalkan, kamu menyukai bulan dan bulan itu menghilang dari dunia apa
yang akan kamu lakukan?”. Wanita itu tersenyum, sambil berkata “jika aku menyukai bulan
dan bulan itu tiba-tiba menghilang, maka aku tidak pernah membenci bulan atau bahkan
menyalahkan dunia. Karena dunia ini masih memiliki bintang dan matahari yang bisa aku
sukai sebagai pengganti bulan”.
Lalu wanita itu berkata “aku tau dirimu, kau adalah seseorang yang mempunyai
impian sebagai penulis, dan harus kamu tau, bahwa guru mu yang berbicara “setiap penulis
pasti mempunyai satu nama untuk dijadikan sebuah inspirasi dari tulisannya” itu adalah
guru ku juga dan dia menyuruhku untuk menjadikan mu sebagai inspirasiku dalam menulis.
Dan kamu tau siapa yang menyuruhku untuk menemuimu, dia adalah guru mu, dan dia
berpesan padaku untuk menumbuhkan lagi semua impian yang telah kamu bangun.
Genggamlah tanganku dan percayalah masa lalu tidak sepenuhnya hilang dan kamu harus
lihat masa depan berada dihadapan mu”.
Setelah mendengar pernyataan wanita itu, harapan dan impian Ilham yang dulu perlahan
hilang, kini mulai kembali. Seiring berjalannya waktu, akhirnya ilham menjadi penulis yang
dikenal, digemari dan disukai banyak orang. Bersama wanita itu, Ilham percaya, bahwa
harapan dan impian itu benar benar ada.
Belum ada tanggapan untuk "penulis"
Posting Komentar