8 tahun bumiku

    Sangat miris melihat keadaan bumiku saat ini, dahulu aku sering bermain dengan teman-teman ku di tepi sungai, ditepi sawah bahkan dilapangan tempat semua anak-anak bermain. Saat itu aku baru berusia 8 tahun, dimana saat itu bumi yang aku tempati masih sejuk juga segar, udara yang sejuk seakan membuat semua orang ingin tertidur pulas dan udara segar seakan membuat semua orang ingin tetap berada di bumi ini.

    Namaku ilham, aku tinggal di sebuah desa yang berada tepat di ujung kota kuningan atau tepatnya berada di daerah jawa barat. Ibuku adalah seorang guru di sebuah sekolah menengah atas dan ayah ku adalah seorang karyawan di sebuah lembaga swadaya masyarakat dan aku memiliki satu orang kakak perempuan yang masih duduk dibangku sekolah menegah pertama.

    Desa kecilku, masih dikelilingi sawah-sawah yang terbentang luas, pepohonan yang menjulang tinggi dan juga kejernihan air yang tidak akan pernah habis walau kemarau datang. Aku sangat bersyukur, bisa tinggal di desa yang begitu indah juga nyaman, aku bisa melihat keindahan matahari terbenam di pinggir sawah setiap sore dan aku bisa melihat keindahan bulan diluar rumah setiap malam.

    Tiga tahun berselang, tepatnya saat aku lulus sekolah dasar, ada sebuah perusahaan tambang yang datang ke desaku. Sasaran dari pertambangan itu adalah sawah-sawah dan juga hutan, karena menurut penelitian perusahaan itu, di bawah tempat desaku tinggal terdapat kandungan minyak yang sangat besar untuk dijadikan sebuah lahan untuk berbisnis.

    Awalnya timbul berbagai perdebatan antara masyarakat dan pihak perusahaan. Disisi lain, masyarakat tidak ingin menjual lahan sawah dan hutan mereka kepada perusahaan untuk dijadikan lahan tambang, karena lahan sawah dan hutan adalah sumber penghasilan masyarakat yang ada di desaku. Dan disisi lain pihak perusahaan tetap ingin membuat sebuah pertambangan di desa ku, dan pihak perusahaan menawarkan biaya yang mahal kepada masyarakat yang ingin menjual sawah dan hutannya juga masyarakat dijanjikan untuk bisa bekerja di perusahaan itu dengan gaji yang mahal. Akhirnya, sebagian masyarakat rela menjual lahan mereka kepada perusahaan untuk dijadikan lahan tambang.

    Beberapa tahun berselang, tepatnya setelah 3 tahun, bersamaan setelah aku lulus sekolah menengah pertama, perusahaan itu mulai membuat sebuah pertambangan. Mulai saat itu, suara sunyi dimalam hari mulai digantikan dengan suara bising yang dikeluarkan melalui mesin bor pertambangan, air yang jernih perlahan menghitam bercampur limbah-limbah perusahaan dan udara yang sejuk mulai digantikan dengan polusi yang mulai menggelap.

    Dua tahun kemudian, saat aku menduduki kelas dua sekolah menengah atas, lahan yang dahulu hijau perlahan mulai hilang dan digantikan oleh bangunan-bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Sebagian masyarakat yang menjual lahannya dulu merasa menyesal, karena saat mereka menjual lahannya kepada perusahaan, mereka dijanjikan pekerjaan yang layak dengan gaji yang besar, namun hal itu hanya omongan belaka. Realitanya, banyak pekerja dari kalangan mereka digaji dengan gaji yang kecil, berbeda dengan para pekerja asing dari luar kota bahkan dari luar negara lain.

    Satu tahun kemudian, tepatnya setelah aku lulus sekolah menengah atas, aku tidak bisa lagi menikmati keindahan desaku, aku tidak bisa lagi menikmati kesejukan udara desaku dan aku tidak bisa merasakan kejernihan air desaku. Aku merasa sedih dengan apa yang terjadi di desaku, bangunan yang tinggi, polusi dimana mana seakan menghalagi aku untuk terus berharap. Dan aku sangat kecewa, karena aku hanya bisa menikmati keindahan desaku selama delapan tahun saja, waktu yang sangat singkat untuk mensyukuri ciptaan Tuhan.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "8 tahun bumiku"

Posting Komentar