Pada saat menduduki sekolah dasar, aku selalu dihina dengan badanku yang kecil dan lemah. Setiap hari yang aku lalui tanpa seharipun terlewat hinaan yang diberikan kepadaku oleh kakak kelas ku, hal itu yang membuatku berpikir bahwa aku harus bisa akan semua hal, entah itu dari segi olahraga, kreativitas maupun pemikiran aku harus unggul dari semua orang.
Suatu hari saat aku sedang bermain dengan teman temanku, entah disengaja atau tidak, ada salah satu kakak kelas yang menendang bola kebadan ku hingga aku tejatuh dan ditertawakan oleh banyak orang. Saat itu aku menangis karena malu dengan sikap ku yang lemah. Hingga suatu saat aku berpikir keras supaya semua orang yang menertawakan aku, kelak akan ku beli semua perkataan mereka dengan sebuah prestasi, sehingga aku tidak di hina namun aku harus dibanggakan dengan semua prestasiku.
Pada saat itu aku memutusakan untuk bisa bermain sepak bola, awalnya aku membeli sebuah sepatu futsal dengan harga 30 ribu yang aku beli dari salah satu temanku dengan uang ku sendiri. Dan setelah membeli sepatu akupun giat berlatih sepak bola sendirian. Aku tidak akan membebani orang tuaku dengan keputusan ku yang ingin bisa bermain bola, aku berlatih dengan alat yang aku buat dari bahan bahan bekas.
Hingga suatu saat aku dihina oleh orang lain karena alat latihan ku yang murahan dan hanya menggunakan bahan bahan bekas untuk dijadikan sarana latihan. Hari berganti akupun memberanikan diri untuk mengikuti sebuah pelatihan sepak bola dengan menggunakan uang yang aku kumpulkan selama ini. Hingga aku diterima di sekolah sepak bola di dekat taman kota dan aku dipercaya untuk menjadi salah satu anggota klub sepak bola disana.
Hari hari aku tekun berlatih, siang dan malam, panas atau pun hujan aku selalu berlatih, tidak peduli apa kata orang yang terpenting ku bisa menjadi salah seorang pemain sepak bola yang bisa dikenal banyak orang dengan prestasi dan kehebatan. Hingga suatu hari saat aku menduduki kelas 6 sd aku diajak untuk bergabung dengan salah satu tim untuk mengikuti acara perlombaan, dan akhirnya aku bisa menjuarai perlombaan itu dengan rekan satu tim ku.
Pada saat aku menduduki kelas 8 aku memberanikan diri untuk mengikuti sekolah sepak bola di Jakarta, dan aku terpilih menjadi salah satu pemain utama dalam tim. Saat itu aku merasa senang, karena aku akhirnya bisa dikenal banyak orang, namun hal itu belum merasa puas bagiku, karena aku harus mempunyai tim yang layak dengan sikap dan kepribadianku sendiri.
Hingga suatu saat aku membuat tim futsal yang aku beri nama BKC FC, tim yang aku buat dan aku bertekad untuk membuat tim aku ini dikenal oleh banyak orang. Aku selalu berlatih dengan timku setiap ada waktu luang dengan tujuan aku bisa membuat tim ini kompak dan bisa berprestasi.
Banyak pergelaran turnamen yang BKC lakukan, dan disetiap turnamen tim ku selalu menjadi juara. Impianku berlanjut untuk memberikan pelatihan kepada anak anak kecil dalam bermain bola, dan aku membuat sebuah tim yang diberi nama BKC regenerasion, dengan alasan supaya kelak anak anak kecil tidak diremehkan oleh orang lain.
Hingga suatu saat anak didik yang aku buat mengikuti sebuah turnamen bergengsi antar kabupaten, dan disanalah anak anak didiku ku berprestasi dengan meraih juara pada turnamen berkelas, hingga aku bawa anak didik ku untuk mengikuti sebuah turnamen nasional di bandung. Dan disana anak didik ku hanya menempati 3 besar dari 100 tim yang mengikuti turnamen bergengsi itu.
Aku sangat bersukur karena anak sekecil itu mampu berprestasi di kanca nasional, walaupun tidak menjuarai turnamen dan hanya menduduki peringkat 3 juga sudah membuatku merasa bangga dengan anak didik ku dan tentunya aku merasa bangga dengan diriku sendiri.
Setelah pulang dari Bandung untuk mengikuti turnamen, aku pun disambut hangat oleh semua orang didesa, dan aku dijuluki sebagai pelatih termuda desa, karena saat itu aku baru berusia 17 tahun. Dan saat itu semua orang yang dulu menghina ku, semuanya memberi ucapan selamat atas pencapaian prestasiku dan orang yang menghinaku berkata “maaf dulu aku selalu menghinamu”. Aku tidak bisa menjadi sekarang jika dulu kamu tidak menghinaku, dan aku sangat berterima kasih kepada mu, jawab ku.
Setelah hari itu aku dikenal dengan banyaknya prestasi yang aku dapatkan selama ini, namun hal itu tidak membuatku merasa sombong dan merasa paling hebat. Justru dengan adanya hal ini aku semakin giat berlatih, karena ketika aku tidak berlatih, semua prestasi yang aku dapatkan akan sia sia. Dan aku berterima kasih kepada Tuhan, karena berkatnya aku bisa menjadi orang sangat dikenal dengan sebuah prestasi.
Belum ada tanggapan untuk "Bintang Lapangan"
Posting Komentar